Dosen UNY Teliti Strategi Pelestarian Walang Goreng Berbasis Kearifan Lokal untuk Memperkuat Identitas Wisata Kuliner Gunungkidul

Gunungkidul – Walang goreng bukan sekadar makanan khas, melainkan bagian dari kekayaan budaya dan identitas kuliner masyarakat Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Di tengah perkembangan pariwisata daSarjanan industri kuliner, keberadaan kuliner tradisional ini menghadapi tantangan, mulai dari perubahan lingkungan dan ancaman degradasi habitat hingga komersialisasi yang berpotensi menghilangkan nilai-nilai budaya di balik penyajiannya.

Berangkat dari kondisi tersebut, tim dosen Program Studi Terapan Tata Boga, Fakultas Vokasi, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), melakukan penelitian bertajuk “Strategi Pelestarian Walang Goreng Berbasis Kearifan Lokal untuk Penguatan Identitas Wisata Kuliner Gunungkidul.”

Penelitian ini diketuai oleh Dr. Minta Harsana, A.Par., M.Sc., dengan anggota tim Afia Fauziah, M.Sc., Rika Nuryani Suwarno, S.Pd., M.Pd., dan Fajar Nur Cahyani, M.Pd. Seluruh anggota tim merupakan dosen Program Studi Sarjana Terapan Tata Boga, Fakultas Vokasi, UNY.

Menggali Kearifan Lokal di Balik Kuliner Khas Gunungkidul

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya menjaga keberlanjutan walang goreng (Valanga nigricornis) sebagai salah satu kekhasan gastronomi Gunungkidul. Selama ini, walang goreng telah berkembang sebagai produk kuliner yang memiliki nilai ekonomi sekaligus daya tarik bagi wisatawan. Namun, perkembangan tersebut perlu diimbangi dengan upaya pelestarian yang memperhatikan aspek ekologi, sosial, dan budaya. Komersialisasi yang hanya berorientasi pada penjualan produk berisiko menghilangkan narasi sejarah, tradisi, serta kearifan lokal yang melekat pada kuliner tersebut. Oleh karena itu, pelestarian walang goreng tidak cukup hanya melalui pengembangan produk dan pemasaran, tetapi juga perlu memperhatikan keberlanjutan sumber daya alam dan pewarisan pengetahuan tradisional masyarakat.

Menghubungkan Tradisi, Konservasi, dan Pariwisata

Penelitian ini memiliki tiga tujuan utama, yaitu mengeksplorasi bentuk-bentuk kearifan lokal masyarakat dalam pelestarian belalang kayu, menganalisis peran kearifan lokal dalam memperkuat identitas wisata kuliner Gunungkidul, serta merumuskan strategi pelestarian yang mengintegrasikan aspek budaya, lingkungan, dan ekonomi.

Untuk mencapai tujuan tersebut, tim peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain etnografi deskriptif. Penelitian difokuskan di Kecamatan Semanu, Paliyan, dan Wonosari yang menjadi lokasi kegiatan perburuan dan pengembangan usaha walang goreng.

Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif terhadap aktivitas perburuan tradisional, wawancara mendalam dengan pemburu, pelaku UMKM, wisatawan, dan instansi terkait, serta Focus Group Discussion (FGD). Data selanjutnya dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña melalui tahapan kondensasi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan.

Membangun Identitas Wisata Kuliner yang Berkelanjutan

Melalui penelitian ini, tim berupaya merumuskan strategi pelestarian yang tidak hanya mempertahankan walang goreng sebagai produk kuliner, tetapi juga memperkuat nilai budaya yang menjadi ciri khas Gunungkidul. Keterlibatan pemburu tradisional, pelaku UMKM, masyarakat, pemerintah, dan perguruan tinggi menjadi bagian penting dalam membangun model pelestarian yang integratif.

Penguatan identitas wisata kuliner diharapkan dapat dilakukan melalui pengembangan narasi etnogastronomi, dokumentasi pengetahuan tradisional, edukasi kepada wisatawan, serta pengembangan produk kuliner yang tetap menghargai kearifan lokal. Di sisi lain, perhatian terhadap daya dukung lingkungan dan keberlanjutan sumber daya belalang kayu menjadi aspek penting dalam strategi pelestarian.

Menghasilkan Model Pelestarian dan Luaran Akademik

Penelitian ini menargetkan tiga luaran utama, yaitu publikasi ilmiah pada jurnal nasional terakreditasi atau jurnal internasional bereputasi, penyusunan buku atau monograf tentang etnogastronomi walang goreng, serta dokumen model strategi pelestarian integratif yang dapat dimanfaatkan oleh para pemangku kepentingan di Gunungkidul.

Model tersebut diharapkan dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah, pelaku industri kuliner, masyarakat, dan pengelola pariwisata dalam mengembangkan wisata kuliner berbasis kearifan lokal (Minta Harsana)